Kumpulan lemak dalam rongga kepalaku ini rasanya sedikit lebih cair sekarang. Setelah memasukkan sepiring penuh lemak, karbohidrat, sedikit serat, sejumput protein, dan sebagian pengawet yang telah dipanaskan di atas nyala api pembakaran bangkai purba cair kedalam perut, aku jadi bisa terjaga dan berpikir. Entah otak liar ini kemana arahnya, aku sendiri kurang paham. Yang pasti, aku masih berada dalam kerangka berpikir yang runtut dan logis, sehingga bisa aku pastikan saat ini aku belum menjadi seorang psikotik atau psikopat.

Aku mengingat kembali apa saja yang aku perdebatkan dengan seorang wanita berlidah tajam yang kumpulan lemak dalam rongga kepalanya mungkin lebih encer dari punyaku. Hari ini kami membicarakan tentang Hak Asasi, cukup menarik bukan? Berat? Ah, kalau memang berat, tentunya bisa dipahami jika hal dasar ini jadi sering dilanggar orang – orang yang memegang kuasa. Utamanya oleh mereka yang merupakan lulusan sebuah akademi yang mengharuskan siswanya berambut cepak, isinya pria semua, dan mata kuliahnya hanya melulu mengenai Pancasila. Entah bagaimana cara mereka berpikir, aku sendiri tidak paham. Bukankah Pancasila sendiri mengajarkan kita untuk menjunjung tinggi Ketuhanan? Yang berarti kita pun tidak punya hak untuk sedikit saja mengusik kehidupan makhlukNya? Tentunya saya cuma bisa bertanya, dan sementara memahami bahwa mereka mungkin punya pemahaman berbeda mengenai hal ini.

Urusan hak asasi memang satu hal pelik yang seringkali menjadi bahan hangat perdebatan antar kaum banyak bicara dan banyak berpikir. Sebagai seorang anggota dari kaum tersebut, aku pun tak ingin diam saja dan cuma mendengar. Ah ya, aku sepintas teringat bahwa saudara – saudaraku di Porong, Sidoarjo yang saat ini tanah kelahirannya, tanah penghidupan dan tempatnya berkarya telah direbut secara sama sekali tidak manusiawi oleh si jidat lebar jutawan menteri. Hak mereka telah dilanggar hingga yang paling dasar, dan ternyata pemerintah justru mendiamkan si jidat lebar ini. Mereka datang menyelamatkan seorang jidat lebar janggut panjang ini. Negeri ini sudah dikuasai kau modal rupanya. Tak ubahnya gonggongan anjing, saudara -saudaraku ini telah diacuhkan. Seolah uang dapat menggantikan apa yang hilang dari mereka. Semuanya takkan pernah sama lagi. Berlipat ganda pun uang ganti yang mereka terima, semuanya takkan dapat hilang begitu saja. Anak – anak kehilangan kawan sebayanya karena harus pindah, belum lagi para buruh yang kehilangan pekerjaan akibat pabriknya berhenti beroperasi dan yang terpenting, lingkungan dan kerukunan yang mereka miliki bersama – sama dalam komunitas harmonis tersebut lenyap.

Cerita kesedihan pelanggaran HAM ini tak hanya satu, tapi juga banyak lagi yang lain. Misalkan kasus Buyat yang kini tak jelas rimbanya, juga kelakuan Freeport pada saudara – saudaraku di bumi Papua sana dan jangan pernah juga lupakan perjuangan Marsinah dan kisah pilunya.

Aku menghela nafas, berat sekali rasanya…apakah karena hakku untuk hidup sehat juga sudah ikut dilanggar? Jakarta memang bisa dibilang sama saja dengan pelanggar HAM berat lainnya. Malam hari pun aku masih sulit menemukan kesegaran udara di sini. Mataku tak sanggup lagi menopang keseluruhan penat yang melanda onggokan daging dan tulang ini. Sebaris kata – kata meluncur masuk dari atas sana menuju penerima pesanku. “Jangan lupa, hak badanmu untuk istirahat harus kau penuhi”, ujar wanita berlidah tajam yang bicara denganku hari ini.Aku merebahkan badan, memenuhi hakku untuk beristirahat, lepas sejenak dari penderitaan dunia yang kelam dan kejam ini.


Leave a Comment